Sabtu, 5 September 2026
TASIKMALAYA, news.bellasalamfm.com (AKA) — Tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik menjadi bioleather (kulit sintetis ramah lingkungan). Inovasi ini ditujukan untuk mendukung konsep green product sekaligus membekali para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan keterampilan berwawasan lingkungan (vocational green skills).
Ketua Tim Peneliti sekaligus Dosen Program Studi S1 Desain Produk Industri, Kampus UPI di Tasikmalaya, Dr. Cucu Sutianah, S.Pd., M.Pd., M.CE., menjelaskan bahwa pembuatan bioleather mengandalkan berbagai limbah organik lokal.
”Kami mengolah sampah organik seperti kulit jeruk, kulit pisang, pelepah pisang, jerami, suwiran nata de coco, rumput laut, hingga residu daun nanas. Bahan-bahan ini dicampur dengan alginat dan bahan pengikat lainnya hingga menghasilkan komposit lembaran menyerupai kulit asli,” ujar Cucu saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (2/9/2026).
Lembaran bioleather tersebut kemudian melalui serangkaian pengujian, mulai dari uji visualisasi, uji tarik, hingga uji durabilitas. Produk turunan yang dihasilkan di antaranya gantungan kunci, dompet, tempat ponsel, ID card, sampul buku, hingga tas yang dipadukan dengan teknik ecoprint.
Kolaborasi Tiga Pihak
Program pengabdian kepada masyarakat berbasis kepakaran ilmu ini menerapkan skema (pentahelix) yang melibatkan Akademisi, Pemerintah, Industri dan mediah. UPI Tasikmalaya bermitra dengan PT Musa Biomassa Natura asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sebagai penyedia teknologi dan pendamping pengolahan biomaterial.
Sementara itu, untuk penyerapan ilmu dan penerapan kurikulum, UPI menggandeng SMKN 3 Tasikmalaya yang memiliki Program Keahlian Kriya Kulit. Kerjasama ini telah dirintis sejak 2022 di bawah naungan Kantor Cabang Dinas XII Tasikmalaya.
”Industri butuh akademisi, dan kami di perguruan tinggi juga butuh mitra industri. Kerja sama ini penting untuk menyelaraskan pembelajaran di SMK agar mengarah pada green job skill, green entrepreneur, dan green curriculum,” kata Cucu.
Meski demikian, Cucu mengakui adanya sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program di lapangan, seperti penyelarasan alokasi waktu pembelajaran, integrasi antarmata pelajaran di SMK, serta komersialisasi produk agar memiliki nilai jual yang berkelanjutan.
Rencana Pengembangan dan Komersialisasi
Selain pengolahan sampah darat, tim peneliti UPI Tasikmalaya berencana memperluas jangkauan riset ke pengolahan sampah laut. Rencana ini telah dikonsultasikan dengan tokoh kelautan asal Pangandaran, Susi Pudjiastuti.
Program riset yang didanai penuh oleh pendanaan internal UPI ini diproyeksikan menghasilkan artikel ilmiah, hak desain industri, dan hak paten. Ke depan, hasil riset diharapkan dapat mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) yang siap dikomersialkan secara mandiri oleh UPI sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH).
”Permasalahan utama kita saat ini adalah sampah. Dulu sampah bekas pembungkus makanan dari daun atau bambu bisa terurai alami, sedangkan sekarang didominasi plastik dan limbah sulit terurai. Mengolah sampah adalah salah satu pekerjaan masa depan yang membutuhkan aksi nyata bersama,” pungkasnya.
Adapun kegiatan pengabdian masyarakat ini turut melibatkan tim akademisi UPI lainnya, yakni R. Moch. Rizal Hafiyan, S.Pd., M .Ds, Meita Annisa Nurhutami, S.S, M .B.A, Handayani Madania Insani, S.Ds, M .Ds, dan Alfian Azhar Yamin , S.Pd, M.Pd
News Bellasalam Faktual Dan Aktual
